Langsung ke konten utama

Postingan

[PUISI] Terdampar dalam Mimpi

Postingan terbaru

[PUISI] Signal

Akankah kau mengerti jika kutuliskan dalam selembar kertas? Dan akankah kau menyadarinya jika kutuangkan dalam kata-kata? Di dalam hutan tanpa ada ruang kosong Laut di luar adalah jendela menyejukkan Dan Pelangi yang datang dengan senyuman Dengan siapa kita menuliskan diksi ini? Lingkaran akan terbentuk jika kita berjalan Lihatlah, jika kita menyamakan majas-majas ini Ada pemandangan baru, puisi yang berubah Labirin cinta dan juga majas-majas dari kota Mari kita menyusun kembali bintang yang bersinar itu Dan menggenggam mimpi yang masih gemetaran Ketika kita dapat menghadapi semua hal itu Kita dapat maju tanpa ragu-ragu, menjadi cahaya Jaringan kita adalah majas yang aku tuliskan Kita mengejarnya, tak bisa ditiru Jaringan kita, mengumpulkan diksi-diksi Lalu menyusunnya dalam sebuah syair

[PUISI] Mati

Jauh di ujung pantai yg terlupakan  terpecah sunyi oleh ombak yg berbisik  Layaknya diri ini yg telah menghilang terlupakan yang hanya bisa menulis sebuah titik Kata per kata telah tertulis tapi tak sehuruf pun yang sampai ke atas kertas Cahaya senja telah menjauh lemas meninggalkan majas yang telah lama mengeras Aku mati Majasku tak mampu lagi menulis sajak dan puisi Aku benar-benar mati Cerita semesta tak mampu aku wakili dalam diksi Majasku menyelam dalam rejana Bersama desir ombak dan badai sembari menggenggam kata pergi menjauh dalam gelap Malam semakin dingin Rintik hujan mengajakku menengadah Rembulan, bintang, dan langit terbang bersamaku Menghantarku menuju surga Kini aku tahu, Apa yg telah dibisikkan oleh sang Ombak Kata apa yg telah tertulis namun begitu sulit tersampaikan Lalu hujan pun menghatkan dinginnya sepi

[Puisi] Kamu

Aku ragu, Apakah benar itu kamu Yang setiap senja bertamu Hanya untuk datang membawa rindu Pada malam mengintip di balik tidur Hingga terbawa pagi saat aku tersadar Benarkah itu kamu Yang namanya masih tertulis rapi di syairku Yang wajahnya terus menepi di khayalku Tolong buat perasaanku tersadar Aku ingin delusi ini berakhir Karena logika telah berkata jujur Pemilik n ama dan wajah itu telah pergi tanpa kabar

[PUISI] Pantaskah?

Aku ini merasa kerdil tak mampu bersaing melawan mereka bermulut besar. Aku ini merasa kerdil tak berdaya dengan mereka yang berkuasa. Aku ini merasa kerdil kepada mereka yang memegang negeri ini. Dan aku menjadi lebih kerdil lagi tatkala hakku berbicara tak lagi diindahkan. Kadang satu-dua barisan harus bermati-matian dengan mengatasnamakan rakyat pun mereka tak peduli. Kadang satu-dua kalimat harus berhati-hati kritik membangun pun penulisnya menghilang. Entah bersembunyi takut, atau disembunyikan oleh entah siapa gerangan. Aku ini merasa kerdil ketika tak mampu sadar negara ini sebenarnya milik siapa.

[PUISI] Sejuta Alasan

Mana dirimu yang telah aku damba dulu Apakah menghilang adalah jalan kau pilih? Apakah seperti ini epilog kisah kita? Ataukah aku sudah bukan lagi tempat hatimu untuk pulang? Kau pergi aku menunggu kau kembali Kau hilang aku mencari-cari dimana kau berada Dan kau diam aku bersyair dalam sunyimu Yakinkan saja, dirimu masih berharap jatuh kepadaku Jalanmu masih rindu untuk tersesat ke hatiku dan diammu masih menanti dekapan hangat untuk mencairkan sunyimu Bisakah aku menyerah, padahal hati masih ingin bersama? Kau punya seribu alasan untuk menyudahi Dan aku punya sejuta alasan untuk terus mengabadikan cinta kita. Tak perlu selamanya, cukup sampai akhir hayat saja Karena kau melukai hatiku, dan kau pula yang membawa perban pengobat hatiku.

Filosofi Kentut

KENTUT KENTUT telah memperoleh penghargaan yang terhormat, setelah ternyata hasilnya dibicarakan oleh orang banyak. Ia menjadi ciri dari kesenian garda depan. Ia busuk ditinjau dari ukuran nilai yang sedang berlansung di masa ia dilemparkan. Tetapi ia telah berhasil membangunkan dari kemacetan, bahkan mereka yang pilek pun tembus oleh nya. Ia mengganggu kedamaian yang sedang mengendap dan nyaris menghentikan perjalanan nilai-nilai dalam sebuah museum. Karenanya banyak orang menjadi merasa dirugikan, tersinggung, marah, disamping juga iri hati karena tiba-tiba mengerti bahwa ia benar benar telah tua dan selesai. Tetapi beginilah kalau semua orang kemudian mencoba kentut beramai-ramai dan udara penuh dengan bau bususk. Tidak jelas lagi siapa yang akan dijadikan korban oleh kentut itu. Kecuali kalau itu dianggap sebagai sebuah peristiwa kntut bersama, menggentuti lantai, tembok, meja, tempat tidur, pekerjaan, tinkah laku, mulut, pikiran, dan hidung yang ada pada masa itu dan har